Setiap kali di jalan raya dan bertemu atau berpapasan dengan rombongan pelayat yang mengantar jenazah ke pemakaman, kesan yang selalu saya tangkap adalah mereka terburu-buru.

Begitu terburu-buru sehingga seolah-olah mereka layak mendapatkan prioritas utama di jalan, pengguna jalan yang lain harus minggir dan membiarkan mereka lewat terlebih dulu.

Layak diprioritaskan seperti terlihat jelas dari potongan bambu yang ditempeli bendera kuning yang diacung-acungkan ke pengguna jalan lain, kadang ditambah dengan tampang sedikit seram dan mata sedikit melotot, walaupun belum pernah saya melihat ada pengguna jalan lain yang kena gebuk (semoga saja tidak pernah ada).

Jujur saja saya selalu penasaran memikirkan alasan kenapa mereka selalu terburu-buru begitu.

Apa takut pemakaman keburu tutup kalo sampai mereka datang telat?

Sejauh ini saya tidak melihat ada urgensi dibalik sikap buru-buru itu, sayangnya saya juga tidak pernah berani untuk menanyakannya secara langsung kepada si meninggal kenapa pengantarnya selalu harus terburu-buru dan meminta prioritas di jalan raya seperti itu.

Paling-paling yang bisa saya lakukan hanyalah gondok dalam hati dan minggir tanpa banyak protes….

Barangkali anda ada yang tahu apa alasannya???

Please…tolong diinfokan ke saya biar suatu saat saya berpapasan dengan rombongan pelayat pengantar jenazah seperti itu, saya punya cukup alasan untuk dengan senang hati (dan tidak gondok lagi) minggir dan memberikan jalan buat mereka.

*ditulis setelah sehari sebelumnya sedikit kaget saat berkendara motor mendadak disuruh minggir dengan diacungi potongan bambu + bendera kuning

Pemilu presiden sudah tinggal hitungan hari. Dulu saat pemilu legislatif (setahu saya) ada banyak kebingungan yang terjadi saat proses mencontreng. Semua orang sepertinya juga sudah tahu apa penyebabnya.

Di pemilu presiden nanti, katanya surat suara yang dipakai akan lebih sederhana (tentu saja, wong calonnya cuma 3 pasang :mgreen:) tapi sekilas di iklan tentang sosialisasi cara mencontreng untuk Pilpres di tipi, sepertinya tetap memberi kemungkinan untuk bingung mengenai cara mencontreng agar sah.

Karena info dari iklan di tipi memang cuma sekilas, sengaja hari ini saya coba nyari info yang lebih detil tentang itu di situs media center KPU.

Di situ saya dapatkan bahwa ada 3 cara mencontreng yang diperbolehkan, dengan memberikan tanda Contreng/Centang(V) pada:

  • Foto pasangan Calon, atau
  • Nama pasangan Calon, atau
  • Nomor urut pasangan Calon

Buat saya, sepertinya itu cukup mudah.

Tapi terpikirkan oleh saya, kenapa harus ada tiga alternatif seperti itu? Menurut saya, dengan adanya 3 kemungkinan cara mencontreng seperti itu akan tetap menimbulkan kebingungan yang tentunya juga bisa berefek suara menjadi tidak sah. Begitupun untuk panitia yang melakukan penghitungan suara juga harus sedikit ’jelalatan’ mencari dimana tanda contreng dibuat para pemilih.

Kenapa tidak dibuat yang lebih sederhana dan memudahkan untuk pemilih dan pemeriksa? Maksud saya kenapa tidak dibuatkan saja semacam kotak kecil (chekbox) pada kartu suara itu, saya pikir dengan demikian proses sosialisasi akan lebih gampang, masyarakat pemilih juga mudah mencontrengnya, begitu juga dengan panitia di TPS yang memeriksa surat suara dapat lebih gampang juga.

Misalnya seperti ini, surat suara diberi penambahan checkbox, sehingga pemilih dapat mencontreng pada checkbox tersebut pasangan calon yang dipilihnya.

kartu suara oleh kabarihari

Menurut saya itu akan sangat mempermudah.

Bagaimana menurut anda?

(Jangan-jangan di negeri ini, istilah “kalo bisa diperumit, kenapa harus dipermudah” masih berlaku…:lol:)

Pagi tadi satu dari tiga jalan masuk ke rumah (kontrakan) saya ditutup. Ada salah satu tetangga yang hendak memperbaiki rumahnya. Karena saya tinggal di daerah yang lumayan padat dan jalanan akses untuk keluar masuk hanyalah berupa gang senggol, maka setiap kali ada keperluan warga entah hajatan atau memperbaiki rumah, otomatis jalan harus ditutup.

Ngga begitu ngaruh, karena saya ngga harus lewat jalan yang ditutup itu.

Saat saya sampai di komplek perumahan sebelah, saya kembali menemukan dua gang yang juga ditutup, karena sedang ada perbaikan. Salah satu gang itu malah sudah ditutup sejak 2 atau 3 minggu lalu. Entah berapa lama lagi gang itu akan ditutup. Yang jelas kali ini saya harus mengambil jalan memutar walaupun tak begitu jauh.

Lalu saat saya sampai di komplek perumahan yang lain (dari rumah sampai kantor saya mesti melewati dua komplek perumahan), lagi-lagi ada penutupan jalan. Kali ini sepertinya ada warga yang meninggal, karena saya melihat ada bendera kuning dipasang.

Untuk kedua kalinya saya harus memutar :lol:. Untung saja saya tidak kesasar :-P.

Jadi hari ini saya temukan total 3 jalan (umum) yang ditutup di sepanjang rute yang saya lewati dari rumah menuju kantor.

Oia, masih ada satu lagi yang saya temukan tapi syukurlah bukan termasuk rute saya, jalan di samping komplek kantor saya juga masih ditutup karena ada perbaikan saluran air kotor (got).

Sebetulnya saya berniat protes atau setidaknya mengeluh tapi mendadak teringat kata-kata guru saya di SMP dulu..

Kepentingan umum selayaknya harus didahulukan ketimbang kepentingan pribadi.

Mau tidak mau saya jadi sadar, bahwa melewati jalanan yang biasa menjadi rute sehari-hari itu hanyalah kepentingan pribadi saya saja. Masih ada kepentingan umum yang lebih besar yang harus didahulukan. Dan kalo kepentingan umum itu mengharuskan jalan ditutup, ya tinggal muter cari jalan lain saja, kepentingan umum lebih utama koq. :lol:

Dan hari ini, sepertinya saya mematuhi dan menjalankan kata-kata guru saya itu…(nikmatnya hidup di negeri ini…:lol: :lol: :lol:)

Dua tahun lalu, sebuah laptop ukuran 14,1″ sudah terasa cukup mungil dan ringan. Tapi kini (sesuai pengalaman saya) laptop seukuran itu mulai terasa besar dan berat. Apalagi memang sudah menjadi tren laptop yang ukurannya sangat mungil (netbook).

Di pasaran saat ini sudah cukup banyak betebaran bermacam merk netbook, salah satu yang menjadi incaran saya adalah netbook keluaran Advan seri Vanbook A1N70T.

advand A1N70T

Seri ini adalah ’adik’ dari seri sebelumnya yaitu Vanbook A1N70, secara spek keduanya sama persis, yang membedakan hanyalah seri ini tidak dibundling dengan Operating System apapun. Hal ini tentu berpengaruh pada harganya. Ya seri ini memang dibandrol sedikit lebih murah ketimbang ’kakaknya’ yaitu di kisaran 3.5juta. (lagi…)

Sudah beberapa hari ini saya terhubung internet menggunakan Jaringan CDMA SMART. Untuk modem saya masih menggunakan henpon buluk namun bisa diandalkan, Nokia 2116. Tadinya sempat sedikit ragu, karena katanya SMART menggunakan frekuensi yang berbeda dengan operator CDMA lainnya, tapi setelah saya ingat-ingat, kenapa mesti bingung soal frekuensi, wong Nokia 2116 kan dual band 8-).

Soal koneksi, sajauh ini saya cukup puas. karena cukup stabil dan yang terpenting unlimited dan saya bisa puas mendengarkan Radio Streaming. Oia, di rumah saya sinyalnya ngga penuh, dan sering naik turun, maksimum cuma 4 garis. Jadi kadang untuk konek saya mesti pinter nyari posisi naruh hape agar sinyalnya stabil. Tapi saat sudah bisa terhubung ke internet, semuanya lancar.

Menurut sumber dari webnya, setting parameter untuk Smart adalah:

  • User Name : smart
  • Password : smart
  • dial : #777

Awalnya saya pake setting seperti tersebut di atas, tapi karena sebelumnya saya sempat pake Mobi atau Fren, di laptop saya terdapat dua setting dial up. (lagi…)

Suatu keinginan yang terpaksa tertunda pasti menyebalkan dan mengecewakan. Terlebih jika keinginan itu sudah didamba-dambakan (sejak lama) kalo istilah Jawa “wis kebelet”.

Contoh paling nyata adalah orgasme yang tertunda karena anak terbangun dan menangis minta susu dan setelah dibikinin susu, bukannya tidur lagi tapi malah melotot ngga tidur lagi sampai pagi… :mgreen:. Ngeselin banget kan??? :mgreen: :mgreen: :mgreen: (lagi…)

Halaman Berikutnya »