Matahari Belum Naik…


Matahari belum naik…

Itu sebuah kalimat yang nyaris setiap hari saya dengar dari mulut tetangga depan rumah saya. Begitupun pagi tadi saat saya bersiap hendak berangkat ngantor.

Terkadang kalimat itu kesannya meledek, menghina, menyindir. Karena saya berangkat kelewat pagi menurut ukuran tetangga saya itu. Padahal setiap harinya saya berangkat ke kantor jam 7:50 dari rumah. Semestinya sudah cukup siang, mengingat saya sampai kantor pasti selalu lewat beberapa menit dari jam 8, padahal aturannya, jam masuk kantor adalah jam 8 :lol:.

Tapi, engga tau kenapa, tetangga saya itu memang selalu berangkat di atas jam 9. Padahal tempat kerjanya cukup jauh, di daerah Gajah Mada Jakarta sana. Kalo dari Bekasi, untuk sampai ke sana menggunakan kereta, mungkin butuh waktu sekitar satu jam.

Kebayang ngga jam berapa dia mulai beraktifitas di tempat kerja? mungkin setelah makan siang.

Herannya lagi, jam pulangnya tetep sama seperti yang lainnya, jam 5 dari tempat kerja. :shock:

Tapi apapun pekerjaannya, saya sama sekali tidak iri koq melihat dia berangkat kerja lebih siang dan pulang juga lebih cepat dari saya, rejekinya juga lain koq (setau saya, masih banyakan saya :mgreen:).

Saya hanya iri dengan orang yang bisa menghasilkan uang jutaan atau milyaran tanpa perlu kemana-mana, cukup dari rumah, di depan laptop.

Ada ngga sih? kalo ada yang tau, ajarin saya dong gimana caranya? :grin:

Btw, ngomongin soal jam kerja, saya pernah denger komentar seorang rekanan bos dari Singapura, katanya kerja di Indonesia itu paling enak, jam kerjanya paling pendek sedunia. Masuk kerja jam 8, berangkat dari rumah jam 8 kurang, di jalan kena macet, sampe kantor jam 10, ngopi dulu, ngerokok dulu, mulai beraktifitas jam 11. Nyalain laptop buka email, online facebook, baca berita ini itu, tau-tau sudah waktunya makan siang :mgreen:.

Kira-kira jam efektif di Indonesia itu adalah setelah makan siang sampai jam 3 sore, setelah itu mesti buru-buru pulang kalo ngga mau kena macet…

Seperti kata tetangga saya,

Matahari belum naik… :lol:

Iklan

Agustus Dan Bendera


448px-Monas_flags_1aKemarin saat pergi ke mal, saya lihat ada banyak penjual bendera di perempatan lampu merah. Mau ngga mau saya jadi inget, sekarang sudah bulan Agustus :lol:

Dulu setiap kali bulan Agustus, di kampung saya, semua orang pasti akan memasang bendera merah putih di depan rumahnya. Selain itu semua orang juga jadi sibuk merapikan pagar halaman rumahnya masing-masing, syukur-syukur kalo punya dana dicat. Pokoknya semua harus lebih rapi. Bahkan di setiap perempatan akan ada umbul-umbul dan hiasan lampu warna-warni.

Dan waktu masih sekolah dulu, saya masih ingat, beberapa kali saya harus ikut berpanas-panas untuk berlatih upacara 17an di stadion.

Singkatnya, semua orang pasti berpartisipasi menyambut peringatan hari kemerdekaan republik tercinta ini.

Sekarang, saya tak tau lagi apakah di kampung saya, semua masih seperti itu atau tidak.

Yang pasti di tempat saya mencari penghidupan sekarang ini, tak begitu nampak ada kesibukan seperti di kampung dulu.

Sejauh ini, saya belum melihat ada rumah yang memasang bendera di halamannya.

Kalaupun ada yang sudah memasang bendera, paling-paling hanya instansi pemerintah atau perusahaan-perusahaan besar yang memang punya kapling untuk mengibarkan bendera di halaman instansinya. Selain itu, ya siapa lagi kalo bukan pedagang yang menjual bendera itu :lol:.

Bagaimana dengan saya? Ndak usah nanya, boro-boro masang bendera didepan rumah, punya benderanya juga endak je…lagipula rumah kontrakan saya ndak ada halamannya :mgreen:. Tapi suer kalo saja pemerintah membagikan bendera gratis untuk dipasang di depan rumah, saya pasti dengan senang hati memasangnya sebulan penuh. :lol:

btw, selamat bulan agustus, selamat bersiap menyambut peringatan kemerdekaan Republik kita tercinta ini…

gambar dicomot dari wiki

Ibu-ibu dan Tasnya


maniak_tas_wanita

Sebetulnya bukan hal yang aneh kalo melihat nona-nona atau ibu-ibu membawa tas seperti terlihat pada gambar (yang saya comot paksa dari sini ). Kalo melihat yang ada di gambar sepertinya sih menarik, cantik, keren atau apalah namanya.

Minggu kemarin saat masih di rumah sakit, ada pasien anak-anak baru masuk dan menempati tempat tidur di sebelah Stesha. Bersamanya seorang ibu-ibu yang menemani. Ibu-ibu itu membawa serta sebuah tas yang kira-kira mirip dengan yang terlihat pada gambar.

Biasanya saya tidak begitu memperhatikan hal-hal sepele seperti ini, tapi entah kenapa ibu-ibu dengan tas besarnya itu sedikit menarik perhatian saya.

Umumnya, setiap kali ada pasien baru, pasti ada sedikit kesibukan dari keluarga yang menemani, merapihkan barang-barang bawaan dll.

Begitupun pasien anak-anak yang baru masuk dan dapat tempat tidur di sebelah Stesha itu. Sang ibu terlihat begitu repot memindahkan ini itu, tapi yang membuat saya heran, diantara kesibukannya itu dan kerepotannya itu, tas yang dicangklong di pundaknya masih saja tetap menempel di sana. Seolah-olah tas itu tidak mengganggu, padahal saya yang melihatnya saja merasa bahwa tas itu menambahi kerepotannya.

Kenapa tidak ditaruh saja dulu tas itu, sehingga dia bisa lebih leluasa memindahkan ini itu???

Apakah ada sesuatu yang teramat berharga di dalam tas itu sehingga tak boleh diletakkan di sembarang tempat?

Atau sedemikian buruknya situasi keamanan di negeri ini sehingga setiap orang layak untuk dicurigai akan mencuri tas itu?

Atau hanya untuk gaya-gayaan saja?

….

…heran…

Waktunya Tak Tepat


IMG_0220Beberapa minggu lalu saya memesan merchandise WWF. Sudah sejak lama saya memang kepingin memiliki merchandise terutama t-shirt dari organisasi pecinta lingkungan semacam itu, karena selain menurut saya merchandisenya pasti keren saya sekaligus juga menyumbang untuk aktifitas mereka (walupun tentu saja nyumbangnya ngga banyak :lol: ).

Sayangnya saat saya mengkonfirmasikan pesanan saya, sepertinya waktunya tidak tepat. Saat itu saya mendapat reply via email, bahwa mereka sedang melakukan stock opname dan tidak bisa melayani pesanan saya. Kalau mau saya mesti menunggu seminggu.

Agak sedikit kesel sebetulnya, tapi ya sudahlah saya ngga akan membatalkannya.

Seminggu kemudian saya mendapatkan konfirmasi bahwa pesanan saya sudah bisa dilayani namun ada beberapa item yang tidak tersedia. Ngga terlalu masalah, karena untungnya saya bisa ganti dengan item yang lain.

Setelah melakukan transfer sejumlah uang sesuai pesanan saya, dua hari berikutnya merchandise yang saya pesan sampai.

Sayang…

Sepertinya waktunya lagi-lagi kurang tepat, saat saya seharusnya ’seneng dan merasa keren’ karena memiliki merchandise dari organisasi pecinta lingkungan yang hebat itu…

Stesha sedang terbaring sakit di rumah sakit, terpaksa harus menjalani rawat inap lagi…

Tentu saja merchandise itu terpaksa saya geletakin dulu untuk lebih berkonsentrasi terhadap kondisi Stesha.

Dan saat itu, ada ledakan bom meneror Jakarta…

Tapi syukurlah, saat saya menulis posting ini kondisi Stesha sudah membaik dan besok seharusnya sudah bisa pulang…

Melipat Kertas (Origami)


Minggu kemarin, tak sengaja saya ’menemukan’ sebuah ebook tentang origami saat sedang iseng googling ebook. Karena tertarik, saya unduh saja sekaligus saya coba mencari yang lainnya. Dengan mengetikkan kata kunci Origami di google dan saya menemukan ribuan bahkan jutaan link tentang itu.

Saat saya coba klik salah satu link itu, ternyata mereka menyediakan database tentang cara membuat model origami dalam format pdf. Pengunjung bisa dengan bebas mencari dan mengunduhnya.

Ini membuat saya bersemangat sekali mengunduh beberapa yang saya kira menarik, seperti model Malaikat, Burung atau kupu-kupu. Dalam bayangan saya ini bisa gunakan untuk bermain bersama Stesha.

Tapi ternyata, membuat origami itu tak semudah yang saya bayangkan. Entah karena model yang saya pilih memang cukup rumit atau apa, yang jelas itu cukup membuat saya pusing :lol:.

IMG_0218

Pusing bikin origami yg bagus...

Mungkin saya memang harus mencari model yang paling sederhana dulu. Dan yang paling mudah dibuat adalah pesawat terbang atau kapal laut :lol:.

pesawat kertas

Kalo bikin ini jelas sukses...

Cara dan Gaya Membalas Komentar Di Blog WordPress


Membalas komentar di blog memang bukanlah sebuah keharusan. Tapi rasanya jarang sekali ada blogger yang tidak membalas komentar-komentar yang masuk di setiap postingnya.

Saya perhatikan ada banyak cara dan gaya teman-teman blogger membalas komentar-komentar itu,

Yang pertama dan yang paling umum adalah,

Menuliskannya dalam satu postingan komentar dengan ditambahi tanda @ pada setiap nama komentator dan dilanjutkan dengan jawaban dari komentar tersebut.

@ anu : blablabla….

@ anulagi : blablabla juga…

Kalo saya, entah kenapa memilih tidak menggunakan @ melainkan #. Mungkin saat itu saya kira agar unik dan berbeda dengan yang lainnya :lol: . Baca lebih lanjut

Apa Alasannya Ya???


Setiap kali di jalan raya dan bertemu atau berpapasan dengan rombongan pelayat yang mengantar jenazah ke pemakaman, kesan yang selalu saya tangkap adalah mereka terburu-buru.

Begitu terburu-buru sehingga seolah-olah mereka layak mendapatkan prioritas utama di jalan, pengguna jalan yang lain harus minggir dan membiarkan mereka lewat terlebih dulu.

Layak diprioritaskan seperti terlihat jelas dari potongan bambu yang ditempeli bendera kuning yang diacung-acungkan ke pengguna jalan lain, kadang ditambah dengan tampang sedikit seram dan mata sedikit melotot, walaupun belum pernah saya melihat ada pengguna jalan lain yang kena gebuk (semoga saja tidak pernah ada).

Jujur saja saya selalu penasaran memikirkan alasan kenapa mereka selalu terburu-buru begitu.

Apa takut pemakaman keburu tutup kalo sampai mereka datang telat?

Sejauh ini saya tidak melihat ada urgensi dibalik sikap buru-buru itu, sayangnya saya juga tidak pernah berani untuk menanyakannya secara langsung kepada si meninggal kenapa pengantarnya selalu harus terburu-buru dan meminta prioritas di jalan raya seperti itu.

Paling-paling yang bisa saya lakukan hanyalah gondok dalam hati dan minggir tanpa banyak protes….

Barangkali anda ada yang tahu apa alasannya???

Please…tolong diinfokan ke saya biar suatu saat saya berpapasan dengan rombongan pelayat pengantar jenazah seperti itu, saya punya cukup alasan untuk dengan senang hati (dan tidak gondok lagi) minggir dan memberikan jalan buat mereka.

*ditulis setelah sehari sebelumnya sedikit kaget saat berkendara motor mendadak disuruh minggir dengan diacungi potongan bambu + bendera kuning