Bonus Tengah Tahun “Utang”


Ternyata bener jika suasana hati sedang tidak enak, segala sesuatunya akan membuat terasa lebih melelahkan. Seperti awal pekan ini, saya sedang kesal dengan kebijakan kantor. Sehingga saya merasa malas sekali ngantor dan beraktifitas.

Kebijakan mengenai apa? Ini kebijakan mengenai biaya dinas luar kota yang menurut saya tidak bersahabat dengan karyawan yang seringkali harus keluar kota seperti saya.

Saya bukan bermaksud utuk mengambil keuntungan dari biaya ke luar kota, apalagi ingin korupsi, tapi saya hanya berfikir bahwa semestinya kantor sudah mempunyai bujet untuk biaya-biaya apapun yang akan dikeluarkan saat di luar kota, sehingga -menurut saya- berapapun biayanya, jika kurang dari bujet yang diberikan, sisanya bisa sebagai bonus dinas luar kota, tapi jika melebihi bujetnya ya resiko kenapa tidak berhemat saat di luar kota.

Tapi ternyata kebijakan kantor saya ini tidak seperti itu, jika saat keluar kota saya diberikan bujet 1 jt, saat kembali saya harus membuat realisasi dengan menyertakan nota yang setidaknya harus sejumlah 1 jt, jika nota yang ada kurang dari 1 jt secara otomatis kekurangannya akan ’dihadiahkan’ sebagai utang pribadi.

Menurut saya itu sangat tidak masuk akal, karena saat keluar kota, ada banyak biaya yang tidak mungkin ada notanya, seperti misalnya; makan di warung, beli rokok, beli koran dll. Padahal justru hal-hal kecil seperti itulah yang sebenarnya tanpa disadari menghabiskan dana cukup banyak.

Mungkin memang saya juga bersalah mengabaikan hal-hal kecil dan kurang berdisiplin dengan keuangan, terutama saat di luar kota, dan saat kembali dari luar kota, seringkali karena ada banyak kegiatan lantas lupa dengan masalah realisasi biaya perjalanan di luar kota. Tapi masa iya tanpa ada realisasi, seluruh biaya selama di luar kota lantas ‘dihadiahkan’ sebagai utang?

Hmmfff..saya jadi ngerasa sia-sia saja saya bela-belain semuanya demi pekerjaan, ninggalin keluarga, tapi hasilnya bukannya keluarga dapat oleh-oleh, tapi malah uang belanja jadi berkurang (

Saat saya konfirmasi ke pihak akunting, konon katanya kalo tidak ada nota realisasi, sama artinya dengan ‘perjalanan dinas luar kota itu diragukan kebenarannya’, artinya bisa saja perjalanan dinas itu rekayasa semata dan sama artinya saya telah melakukan korupsi.

Dan akibatnya, sekian lama saya bekerja, bukannya saldo tabungan saya meningkat tapi justru saldo utang saya ke kantor yang meroket, dan sialnya semua itu tanpa saya ketahui, saya baru tau setelah minta tolong ke bagian akunting untuk memeriksa utang pribadi saya di kantor. Dan bukan ucapan selamat karena tak punya utang di kantor tapi justru dikagetkan dengan utang yang justru bertambah jumlahnya..

*sedih…

(sepertinya itu berimbas ke blog saya yang mungkin beberapa saat ini ngga saya sentuh.. )

15 thoughts on “Bonus Tengah Tahun “Utang”

  1. # goop : iya barangkali itu pemicunya paman. Memang menimbulkan kemungkinan menjadi “ladang” korupsi, tapi buat yang jujur malah jadi ajur (kaya saya yang ngga bisa ngarang nota-nota palsu).

    # itikkecil : iya, aneh & tidak masuk akal, seolah dinas keluar kota itu sama saja dengan kerja sehari2 di kantor, padahal ninggalin keluarga dll + resiko di perjalanan jelas harus ada konsekuensinya, kalo di kantor saya konsekuensinya ya jadi nambah utang😦

  2. ih, nyaris sama.
    Sekarang di kantor juga begitu, sekecil apapun harus ditulis dan pakai bon, bete kan.
    Tapi masih bersyukur, ngak jadi utang pribadi.
    Tetap semangat dong, kalau blognya ngak disentuh ntar bahan bacaanku berkurang nih😦

  3. Ping-balik: Iseng daripada Sebel.. « *hari-hari Hari

  4. # IndahJuli : Sebetulnya sih, tertib administrasi itu bagus, tapi kadang koq terasa berlebihan begitu ya? atau emang bagusnya sih ngga usah dinas luar kota saja biar hemat ya?

    *ini udah semangat, mpe posting 2x hari ini😀

    # Mrs. Fortynine : saran yang bagus Wi..:D cuma koq ribet bener ya?
    Mending ngga usah dines luar kota aja😀 (cuma saya juga jadi ngga bisa pulang kampung gratis) soalnya paling sering dinesnya ke Jogya😀

  5. *kasih kartu nama*
    siapa tau butuh bantuan uang pinjaman utk menyelesaikan utang hehehehe:mrgreen:

    aduuuh berat jg yah dgn peraturan aneh macem ini..niat hemat malah jd utang ckckckckck..

  6. # thelobizz : *kartu nama diterima “koq ngga ada fotonya?” :mrgreen:*

    Iya dan “bonus” utangnya bisa sebesar 1x gaji😥

    *tawaran pinjaman terpaksa ditolak, daripada dikasih pinjaman mending ditraktir makan saja deh?:mrgreen: *

  7. # FraterTelo : Inggih Ter, ini juga lagi di urus biar clear masalahnya. Mudah2an jadi pelajaran biar ngga parah ke depannya.

    * apa kabarnya Ter, saya dengar dari mas Sigit, tempat tinggalnya berdekatan ya? sepertinya suatu saat bisa kopdar nih😀

  8. Mas, di tempat kerja saya yang dulu juga gitu je, saya masih ingat waktu tahun 2004 saya mengembalikan uang lapangan 700 ribu. Namun bedanya, waktu itu kebijakannya jika ternyata uang lapangan kurang, kita bisa mengajukan reimbursement.

    Di tempat kerja saya sekarang modelnya lump-sum untuk uang saku dan hotel. Namun biaya lapangan tetap harus di pertanggung jawabkan realisasinya dan jika melebihi budget kita juga bisa mengajukan reimbursement.

    Gimana kalau diusulkan seperti itu:mrgreen:

  9. # sigid : sebetulnya kalo kurang memang bisa minta tambah, tapi yang membuat saya kecewa kata-kata “kalo tidak ada bukti nota dianggap ngga pernah ada perjalanan dinas luar kota.” Jadi dari situlah sebetulnya jika ngga ada realisasi lantas di “hadiahkan sbg bonus”😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s