Horor Lokal Vs Impor


Sam & DeanHal yang selalu kulakukan saat di rumah ngga lain dan ngga bukan ya nonton TV. Walopun lebih banyak tayangan sinetron. Untung saja ada laptop yang bisa dimaenin jadi ngga terasa tau-tau sudah jam 8.30 dan saatnya memindahkan chanel ke Trans7 dan nonton serial Supernatural.

Aku ngga ingat dengan pasti kapan serial Supernatural diputar di Trans7, tapi diantara semua tayangan TV di jam-jam utama, serial ini menurutku layak ditonton.

Ceritanya mengenai dua bersaudara Dean dan Sam yang karena suatu hal menjadi sepasang pemburu hantu. Karena ketinggalan beberapa episode awal jadinya aku sedikit kurang jelas latar belakang kenapa mereka jadi pemburu hantu, arwah dan sejenisnya, tapi di beberapa episode pernah diceritakan bahwa petualangan mereka untuk menemukan ayah mereka dan menemukan iblis pembunuh ibu mereka.

Boleh dibilang serial ini masuk ke kategori horor. Menyeramkan tapi juga seru. Dan seperti umumnya filem barat, terlihat sekali sekularismenya. Ngga ada sama sekali menyentuh tentang agama, lebih cederung menampilkan segala sesuatu dengan logika sekalipun cerita mengenai hantu, arwah yang mungkin ngga bisa dilogika. Dan untuk menghancurkan hantu atau setannya sama sekali ngga memakai doa atau simbol-simbol atau ritual agama, melainkan senjata (pistol dsb).

Beda sekali dengan horor lokal, kalo horor lokal seringkali bukannya serem tapi malah membuat jijik. Dan umumnya ada tokoh agama yang terlibat untuk menghentikan dan menghancurkan si hantu dan arwah, dan doa-doa serta ritual agama tertentu selalu sangat ampuh untuk itu (sepertinya memang ada unsur untuk berdakwah agama juga.)

Dan menurutku filem horor impor dan lokal bedanya terlalu jauh, kalo horor import walopun serem ada unsur menghibur juga, tapi horor lokal? sepertinya hanya sekedar menakut-nakuti dengan hal-hal menjijikkan.

Mungkin definisi seram menurut orang Indonesia dengan orang barat memang berbeda. Serem di filem barat, menurutku lebih pada unsur psikologis, lewat adegannya, musik latarnya, pencahayaannya dsb walopun terkadang hantu (tokoh seremnya) justru malah ngga serem seperti Drakula atau vampir misalnya. Kalo filem lokal, seremnya lebih ke visualitas hantunya, bentuk tubuh dan wajah yang menjijikan (pocong, kuntilanank, genderuwo, suster ngesot dll), ceceran darah dan segala hal yang menurutku menjijikan gitu deh. Itu pula sebabnya aku sama sekali ngga pernah tertarik untuk menonton filem-filem horor lokal yang belakangan ini banyak sekali diputar di bioskop walopun konon katanya filem-filem horor lokal laris manis dipasaran.

Bagaimana dengan anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s