Sudah beberapa hari ini saya terhubung internet menggunakan Jaringan CDMA SMART. Untuk modem saya masih menggunakan henpon buluk namun bisa diandalkan, Nokia 2116. Tadinya sempat sedikit ragu, karena katanya SMART menggunakan frekuensi yang berbeda dengan operator CDMA lainnya, tapi setelah saya ingat-ingat, kenapa mesti bingung soal frekuensi, wong Nokia 2116 kan dual band 8-).

Soal koneksi, sajauh ini saya cukup puas. karena cukup stabil dan yang terpenting unlimited dan saya bisa puas mendengarkan Radio Streaming. Oia, di rumah saya sinyalnya ngga penuh, dan sering naik turun, maksimum cuma 4 garis. Jadi kadang untuk konek saya mesti pinter nyari posisi naruh hape agar sinyalnya stabil. Tapi saat sudah bisa terhubung ke internet, semuanya lancar.

Menurut sumber dari webnya, setting parameter untuk Smart adalah:

  • User Name : smart
  • Password : smart
  • dial : #777

Awalnya saya pake setting seperti tersebut di atas, tapi karena sebelumnya saya sempat pake Mobi atau Fren, di laptop saya terdapat dua setting dial up. (lagi…)

Suatu keinginan yang terpaksa tertunda pasti menyebalkan dan mengecewakan. Terlebih jika keinginan itu sudah didamba-dambakan (sejak lama) kalo istilah Jawa “wis kebelet”.

Contoh paling nyata adalah orgasme yang tertunda karena anak terbangun dan menangis minta susu dan setelah dibikinin susu, bukannya tidur lagi tapi malah melotot ngga tidur lagi sampai pagi… :mgreen:. Ngeselin banget kan??? :mgreen: :mgreen: :mgreen: (lagi…)

Sejak kasus ’keluhan’ ibu Prita Mulyasari mencuat, sempat terbersit rasa takut untuk ’mengeluh’ tentang sesuatu menyangkut layanan publik di blog saya ini. :lol:

Tentu saja karena selama ini saya memang sering ngedumel tentang banyak hal yang tidak menyenangkan yang saya alami sehari-hari di blog saya ini, meskipun biasanya saya jarang menyebutkan nama orang atau instansi tertentu jika saya ngedumel.

Yang saya takutkan, namanya manusia, bisa jadi saya lupa dan tanpa sengaja mencantumkan nama orang atau Instansi tertentu, mungkin bisa berakibat fatal seperti yang dialami ibu Prita itu. Duh serem sekali…:???:

Perbedaan antara mengeluh, mengritik atau mencela dan mencemarkan nama baik, mungkin sangat tipis sekali. Terlebih jika yang dikiritik itu adalah orang atau instansi yang memiliki pengaruh (uang atau kekuasaan).

Jika yang dikiritik hanyalah orang-orang kecil, seperti tukang ojek yang ngebut, pedagang kakilima yang jualan sembarangan, supir angkot yang memotong jalan atau mungkin anda mengritik saya :lol:, semuanya tak akan terlalu menjadi masalah, meskipun cara mengritiknya sangat kasar (dengan memaki-maki), paling-paling yang terjadi hanyalah adu tegang dan balas memaki, paling parahnya (hanya) berantem.

Dari kasus yang dialami ibu Prita Mulyasari itu, saya jadi terpikir, bagaimana kejadiannya jika yang dilakukan ibu Prita bukanlah mengeluhkan layanan yang buruk melainkan memuji layanan yang sangat memuaskan dari rumah sakit itu, mengirimkan lewat email ke teman dan kenalannya, dan selanjutnya disebarkan orang lewat milis-milis.

Apakah pihak rumah sakit itu akan memberikan ’reward’ yang sepadan karena ibu Prita mengharumkan nama baik instansi tersebut dengan misalnya memberikan layanan VIP gratis untuk beliau dan keluarganya jika dirawat di sana? kemudian setelah sembuh dan keluar diberikan uang saku misalnya?

…???…

Yang saya tau dengan pasti, keluhan dan kritik dari konsumen selalu tak pernah menyenangkan, tapi kata orang..

Konsumen adalah Raja…

banner-prita-234x60

Seandainya saja memuji layanan publik akan mendapatkan ’reward’ yang sepadan, karena itu bisa diasumsikan sebagai bentuk Pengharuman Nama Baik, maka mulai detik ini, saya dengan senang hati ’memaksa’ seluruh keluarga saya, teman kerabat (dan pengunjung blog ini) untuk selalu memuji semua layanan publik yang ada sangatlah memuaskan (sekalipun jika harus sedikit berbohong yang penting semua senang, dan semua diuntungkan). :mgreen: :mgreen: :mgreen:

Kata seafood selalu menarik minat saya untuk lapar :lol:.

Sayang saya jarang sekali bisa menikmati masakan udang, cumi atau kepiting. Entahlah saya selalu tak pernah pede untuk masuk ke tempat makan yang menyediakan seafood (sekalipun itu hanya di warung tenda pinggir jalan).

Hari Juma’t 29 mei kemarin, saya merasa sedikit beruntung, kantor saya mengadakan acara arisan di sebuah rumah makan seafood. Meskipun untuk ke sananya mesti naik motor sendiri dan harus menembus kemacetan (biasanya saya selalu nebeng mobil kantor setiap ada acara begini :lol: ).

Tapi semuanya seperti terbayar saat menikmati sepiring kerang rebus, Cumi goreng tepung, udang asam manis dan beberapa makanan lain (yang sedikit mengherankan buat saya, ternyata toge, gurame, dan masakan jamur serta tempe goreng ternyata masuk dalam kategori makanan laut :mgreen: ).

(Sayang saya tak punya kamera untuk menampilkan gambar-gambar tentang makanan lezat itu.. :lol: ).

Singkat saja, semua makanan tandas dengan cepat.

Sama sekali tak ada kejadian aneh, selain ternyata beberapa teman kantor saya sekalipun masih muda, ada yang menderita asam urat, sehingga dengan sangat terpaksa hanya bisa menikmati hidangan "laut" yang aman : toge, tempe dan gurame :mgreen: ).

Keanehan mulai terjadi setelah saya sampai di rumah, sedang asyik nonton tv, saya merasa perut saya mendadak mual. Begitu mual sehingga memaksa saya buru-buru lari ke belakang.

Dan selanjutnya, semua santapan lezat tadi semuanya harus termuntahkan lagi. Dan baru berhenti setelah 3/4 isi perut saya habis. (eh darimana saya bisa tau 3/4 isi perut saya ya? :lol:, ah saya memang cuma asal aja koq).

Sehabis itu, badan saya selain lemes juga terasa dingin sampai menggigil. Tak biasanya saya seperti ini.

Beberapa jam kemudian, saya kembali harus berlari ke belakang, dan habislah seluruh isi perut dimuntahkan lagi.

Saat saya menulis ini, saya sudah merasa sedikit lebih baik, jika tadi merasa kedinginan, sekarang sudah mulai bisa berkeringat lagi, sepertinya sudah mulai normal.

Tapi saya ngga pernah tau apa penyebab saya hoek begitu. Keracunan? atau hanya masuk angin? Atau perut saya alergi dengan makanan yang tidak seperti biasanya?

…embuh…

(mestinya diposting hari Jum’at malam, tapi karena MOBI bosok koneksinya diakhir pekan, terpaksa baru bisa diposting sekarang Senin pagi 1Juni 2009)

Sore tadi ada tetangga mengetuk pintu rumah saya. Saya lihat ada istrinya juga yang menemaninya. Tanpa banyak basa-basi dia langsung ngomong bermaksud meminjam sepeda motor saya sebentar.

Agak surprise mengingat saya kurang begitu akrab dengannya.

Karena sepertinya penting, wong sampe berani minjam gitu, akhirnya saya kasih pinjam, meski sebetulnya saya kurang begitu iklas. Lagipula dia bilang hanya sebentar…

Ternyata sebentar itu sangat relatif…

Buat saya sebentar itu ngga sampe sejam. Kenyataannya, dari jam 7 sampe jam 11 malem dia baru kembali.

Cukup lama saya nongkrong di depan rumah nungguin dia kembali. Dan seperti pendapat semua orang, menunggu itu menyebalkan, terlebih karena ini menyangkut sesuatu yang buat saya cukup berharga.

Jujur saya cukup cemas, cemas karena selain saya kurang begitu akrab dengan tetangga yang meminjam motor saya itu, saya lebih mencemaskan kalo seandainya terjadi apa-apa, kecelakaan misalnya.

Mungkin saya sedikit berlebihan dalam hal kuatir, walaupun saya juga tau sebetulnya kekuatiran tak pernah membuat segala sesuatu menjadi lebih baik, tapi yang jelas saya punya alasan cukup kuat untuk itu.

Ini karena saya mempunyai sebuah memori buruk untuk urusan yang begini.

Beberapa tahun lalu, saat saya pertama kali punya sepeda motor. Seorang teman meminjamnya, dan karena motor baru, ada teman lain yang kepengin menjajal juga. Sialnya, dia mengalami kecelakaan, tabrakan dengan motor lain dan motor saya itu hancur, pipa rangka depan sampai bengkok.

Memang yang bersangkutan bersedia bertanggung jawab, mau mengganti semua kerusakan. Tapi apalah arti sebuah ganti rugi, karena sekalipun diganti tetap saja saya rugi, motor saya tak pernah pulih seperti sedia kala…

Sejak itu saya tak pernah lagi bisa dengan tenang meminjamkan apapun ke orang lain, terlebih kendaraan bermotor.

Jujur saat melihat tetangga saya kembali dengan selamat, saya begitu lega. Hanya saja saya berharap dia tidak akan pernah lagi meminjam motor saya. Terlebih karena ternyata urusannya menurut saya tak begitu penting, wong dia minjam itu hanya untuk menghadiri acara syukuran dirumah salah satu caleg yang sukses lolos menjadi anggota dewan. Ngga terlalu penting kan?

Berawal dari sebuah status Facebook seorang teman yang ngomongin tentang merokok. Iseng saja saya tanggapi dengan sebuah komentar,

Sambil ngopi lebih asyik.

Kemudian ada teman lain yang berkomentar juga,

Ide bagus tuh, ditunggu undangannya di J-co atau Starbucks.

:shock: :shock: :shock:

Suer, saya bener-bener kaget, tersindir dan merasa miskin :lol:. Buat saya ngopi itu ya ngopi, beli kopi item sachet yang sudah plus gula (kalo ngga salah seharga Rp 750 perak) trus diseduh.

Just it. Simpel dan murah.

Ataupun kalo misal males bikin sendiri, ya bisa aja nongkrong di warung depan, ngopi di sana, paling mahal cuma ngabisin Rp 1500 perak.

Tapi ternyata, beda orang beda latar belakang, beda juga persepsinya, termasuk dalam hal ini soal ngopi.

Jujur saja saya sama tidak pernah ngebayangin kalo ngopi itu sepadan dengan J-Co atau Starbucks. Yang saya bayangin ngopi itu ya seperti yang saya sebut di atas. :lol: :lol:

Buat saya membayar uang puluhan ribu hanya untuk secangkir kopi, meski ditambah dengan ruangan dingin berAC serta kenyamanan suasana (+ wifi gratis) di J-Co, Starbucks ataupun tempat ngopi lainnya di Mall terasa terlalu berlebihan.

Kopi toh tetap saja enak sepanjang takarannya pas, meski hanya di nikmati di ruang pantry yang pengap oleh asap rokok atau di warung pinggir jalan.

Anyway, kalo dipikir-pikir, mengherankan sekali ada banyak orang yang rela mengeluarkan uang puluhan ribu hanya untuk secangkir kopi, yang ditempat lain secangkir kopi itu hanya berharga beberapa ribu rupiah saja.

Demi sebuah gengsikah?

Kalo saya, koq rasanya lebih bergengsi mengeluarkan uang lebih untuk membeli bensin non subsidi ketimbang untuk membeli secangkir kopi di Starbuck atau J-co…. :grin:

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »