Jum’at minggu kemarin, mamanya Stesha nelpon kakaknya untuk mengabarkan Stesha dirawat inap di rumah sakit. Sebetulnya saya agak sedikit enggan, serba salah, sungkan dan tidak enak ada musibah begini, saudara tidak dikabari, tapi ngabari koq kesannya kami mengharapkan bantuan (finasial).

Memang secara finansial, saya tau banget kakak mamanya Stesha memang jauh lebih mapan, dan dulu saat (alm) Steven beberapa kali sakit hanya mereka harapan saya satu-satunya.

Sepertinya setelah beberapa kali kejadian, saya merasakan kalo sebetulnya mereka enggan menjadi tumpuan harapan, mungkin karena mereka juga punya banyak kebutuhan, lagipula toh sayalah yang semestinya memberikan jaminan kesehatan untuk anak-anak saya.

Sebetulnya saya malu menjadi ’benalu’ , kesannya saya ngga becus ngurus keluarga, hanya karena tak ada pilihan lain, terpaksa saya buang jauh-jauh rasa malu dan mengemis minta bantuan ke saudara.

…itu dulu saudara-saudara..

Sekarang saya sudah banyak belajar dari pengalaman itu, kondisinya sudah jauh berubah. Secara finansial memang kami masih terbatas, tapi setidaknya kebutuhan akan jaminan kesehatan sudah menjadi prioritas utama saya.

Jadi…

IMG_1196Sebetulnya mamanya Stesha menelpon kakaknya hanya untuk mengabarkan Stesha dan mesti rawat inap. Itu saja, kami tak lagi mengharapkan bantuan finansial apapun. Ditengok saja sudah lebih dari cukup!

Kakak mamanya Stesha bilang besok dia akan datang, tapi nungguin Kiki anaknya pulang sekolah, begitu katanya setelah selesai menelepon.

Waktu berlalu…

Sampai jam kunjung hari Jum’at, Sabtu, Minggu dan Senin sore berakhir, tak ada tanda-tanda kakaknya mama Stesha bakalan dateng. Besoknya, sama saja. Bahkan sekedar nelpon mengabarkan kalo ngga bisa dateng pun sama sekali engga.

Ah, sepertinya memang kakaknya mama Stesha ngga bakalan nengok..

Mungkin masih berbekas memori lama, betapa kami selalu mengharapkan bantuan biaya..

Ya sudahlah, daripada merepotkan mending engga usah ditengok juga ngga apa (meskipun mungkin itu membuat mamanya Stesha sedikit kecewa) toh yang terpenting Stesha sembuh.

Beberapa tetangga ada yang sempat menengok -terima kasih banyak-, tapi ada juga yang berbasa-basi mengatakan belum sempat menengok dan mereka meminta maaf. ..

pfiuuuuh…

Saya tak bermaksud bersikap sinis mendengar basa-basi itu, tapi sudahlah… saya amat yakin mereka bukannya belum sempat, karena kalau mau menyempatkan diri, hari Sabtu-Minggu kemarin mestinya bisa. Tapi mungkin ada alasan yang lain selain karena belum sempat.

Mungkin kebiasaan umum di masyakat kita yang membuat mereka belum bisa menyempatkan diri menengok tetangga yang sakit. Ya kebiasaan membawa buah tangan. Seolah jika mengunjungi tetangga yang sakit di rumah sakit tanpa membawa apa-apa adalah teramat memalukan.

Padahal, buat saya pribadi, dikunjungi saja sudah lebih dari cukup. Ya buat saya itu lebih berarti karena membuat saya merasa bahwa dalam kesulitan kami tak sendiri. Secara mental di saat sedang berkesusahan, kedatangan teman, tetangga dan terlebih saudara, tentulah amat berguna, walaupun mungkin beban biaya tetap mesti ditanggung sendiri…

Tapi thanks God, apapun itu, sekarang Stesha sudah sembuh dan boleh pulang, dan thanks again, keputusan saya mengambil asuransi kesehatan buat Stesha sudah sangat tepat, saya tak perlu lagi menggantungkan kebutuhan biaya saat sakit (yang muahalnya minta ampun itu..) ke kantor, teman, tetangga juga saudara…

Terima kasih juga buat teman-teman dan saudara Blogger untuk semua supportnya:

Max Breaker, mas Artha, jeunglala, paman goop, takochan, hanggadamai, uwiuw, mas Sigid, pak Trainer, syelviapo3, jingga, FraterTelo.