Arsip

Arsip untuk Agustus, 2008

Sekedar Uneg-uneg Sekaligus Ucapan Terima Kasih

Agustus 29, 2008 *hari 19 komentar

Jum’at minggu kemarin, mamanya Stesha nelpon kakaknya untuk mengabarkan Stesha dirawat inap di rumah sakit. Sebetulnya saya agak sedikit enggan, serba salah, sungkan dan tidak enak ada musibah begini, saudara tidak dikabari, tapi ngabari koq kesannya kami mengharapkan bantuan (finasial).

Memang secara finansial, saya tau banget kakak mamanya Stesha memang jauh lebih mapan, dan dulu saat (alm) Steven beberapa kali sakit hanya mereka harapan saya satu-satunya.

Sepertinya setelah beberapa kali kejadian, saya merasakan kalo sebetulnya mereka enggan menjadi tumpuan harapan, mungkin karena mereka juga punya banyak kebutuhan, lagipula toh sayalah yang semestinya memberikan jaminan kesehatan untuk anak-anak saya.

Sebetulnya saya malu menjadi ’benalu’ , kesannya saya ngga becus ngurus keluarga, hanya karena tak ada pilihan lain, terpaksa saya buang jauh-jauh rasa malu dan mengemis minta bantuan ke saudara.

…itu dulu saudara-saudara..

Sekarang saya sudah banyak belajar dari pengalaman itu, kondisinya sudah jauh berubah. Secara finansial memang kami masih terbatas, tapi setidaknya kebutuhan akan jaminan kesehatan sudah menjadi prioritas utama saya.

Jadi…

IMG_1196Sebetulnya mamanya Stesha menelpon kakaknya hanya untuk mengabarkan Stesha dan mesti rawat inap. Itu saja, kami tak lagi mengharapkan bantuan finansial apapun. Ditengok saja sudah lebih dari cukup!

Kakak mamanya Stesha bilang besok dia akan datang, tapi nungguin Kiki anaknya pulang sekolah, begitu katanya setelah selesai menelepon.

Waktu berlalu…

Sampai jam kunjung hari Jum’at, Sabtu, Minggu dan Senin sore berakhir, tak ada tanda-tanda kakaknya mama Stesha bakalan dateng. Besoknya, sama saja. Bahkan sekedar nelpon mengabarkan kalo ngga bisa dateng pun sama sekali engga.

Ah, sepertinya memang kakaknya mama Stesha ngga bakalan nengok..

Mungkin masih berbekas memori lama, betapa kami selalu mengharapkan bantuan biaya..

Ya sudahlah, daripada merepotkan mending engga usah ditengok juga ngga apa (meskipun mungkin itu membuat mamanya Stesha sedikit kecewa) toh yang terpenting Stesha sembuh.

Beberapa tetangga ada yang sempat menengok -terima kasih banyak-, tapi ada juga yang berbasa-basi mengatakan belum sempat menengok dan mereka meminta maaf. ..

pfiuuuuh…

Saya tak bermaksud bersikap sinis mendengar basa-basi itu, tapi sudahlah… saya amat yakin mereka bukannya belum sempat, karena kalau mau menyempatkan diri, hari Sabtu-Minggu kemarin mestinya bisa. Tapi mungkin ada alasan yang lain selain karena belum sempat.

Mungkin kebiasaan umum di masyakat kita yang membuat mereka belum bisa menyempatkan diri menengok tetangga yang sakit. Ya kebiasaan membawa buah tangan. Seolah jika mengunjungi tetangga yang sakit di rumah sakit tanpa membawa apa-apa adalah teramat memalukan.

Padahal, buat saya pribadi, dikunjungi saja sudah lebih dari cukup. Ya buat saya itu lebih berarti karena membuat saya merasa bahwa dalam kesulitan kami tak sendiri. Secara mental di saat sedang berkesusahan, kedatangan teman, tetangga dan terlebih saudara, tentulah amat berguna, walaupun mungkin beban biaya tetap mesti ditanggung sendiri…

Tapi thanks God, apapun itu, sekarang Stesha sudah sembuh dan boleh pulang, dan thanks again, keputusan saya mengambil asuransi kesehatan buat Stesha sudah sangat tepat, saya tak perlu lagi menggantungkan kebutuhan biaya saat sakit (yang muahalnya minta ampun itu..) ke kantor, teman, tetangga juga saudara…

Terima kasih juga buat teman-teman dan saudara Blogger untuk semua supportnya:

Max Breaker, mas Artha, jeunglala, paman goop, takochan, hanggadamai, uwiuw, mas Sigid, pak Trainer, syelviapo3, jingga, FraterTelo.

Categories: 311555, Celoteh, My Life

Lagi-lagi -terpaksa-Berurusan dengan Rumah Sakit…

Agustus 23, 2008 *hari 13 komentar

Akhir pekan ini terpaksa saya lewatkan dengan mondar-mandir di rumah sakit. Gara-gara sejak rabu kemarin Stesha jatuh sakit dan harus dirawat.

Suatu kondisi yang tak pernah ingin saya alami, terpaksa harus saya alami lagi…

Jujur, sejak kejadian setahun lalu pada Steven, rumah sakit adalah sebuah tempat yang terburuk untuk dikunjungi. Tapi apa boleh buat…semua mesti terulang. Hanya saja -thanks God- sekarang kondisinya sudah jauh berbeda. Dulu saya masih terlalu sombong dan bodoh untuk memahami bahwa kesehatan, terutama kesehatan anak adalah sesuatu yang teramat berharga dan mahal. Padahal teramat manusiawi jika tubuh manusia itu rapuh dan mudah jatuh sakit dan tentu saja semua itu mesti dibayar sangat mahal terlebih untuk ukuran saya.

Saat ini, saya hanya perlu fokus pada kondisi kesehatan Stesha saja, tak perlu lagi ditambahi dengan beban pikiran bagaimana cara membayar biaya perawatan rumah sakit yang super duper mahal itu. Semua sudah dicover oleh asuransi…dan tentu saja semua tindakan medis yang diperlukan juga menjadi sangat maksimal..betapa sungguh melegakan.

So sementara ini, saya mesti off dulu dari kegiatan ngeBlog, mohon do’anya ya, agar Stesha cepet sembuh…

Categories: 311555, Celoteh, My Life

Merdeka!!!

Agustus 19, 2008 *hari 7 komentar

Ah mestinya saya posting tulisan bertema kemerdekaan kemarin, tepat di tanggal 17 Agustus, di mana seluruh negeri tengah merayakan 63 tahun kemerdekaan Republik ini.

Tapi sayang sekali, internet di tempat saya belumlah merdeka , terpaksalah saya juga tidak bisa merasakan kemerdekaan menjalankan aktifitas blogging…

Tapi walo begitu, saya merdeka untuk memilih banyak hal yang bisa saya lakukan sepanjang akhir pekan ini, lha wong libur koq dan agustusan gini kan ada banyak acara.

Dan tanggal 17 Agustus akhirnya saya awali dengan bangun tidur setelah matahari begitu terang benderang di timur . Dan beruntunglah, sebelum siang menjadi terlalu panas, kami sekeluarga sempat sekedar jalan-jalan ngajakin Stesha ke sekitaran Stadion Bekasi, dimana biasanya hari Minggu pagi tempat itu menjadi pasar dadakan. Lagipula memang ada sebuah barang yang harus dibeli agar kami menjadi lebih merdeka.

Barang apakah itu?

Raket Nyamuk!!!

Yup, agak berkurang rasanya menjadi orang Merdeka jika setiap malam masih harus berjuang melawan nyamuk .

Dan selanjutnya, kami benar-benar menjadi Merdeka dari gigitan nyamuk di malam hari..

ah biarpun sedikit terlambat, ngga ada salahnya berteriak:

“Merdeka!!!!!”

*sayang peringatan HUT RI yang diadakan warga di dekat tempat tinggal saya koq banyak yang membuat orang lain menjadi tidak merdeka. Gimana engga wong sebagian ngadain acara panggung hiburan dengan menutup akses jalan umum koq .

Categories: Celoteh, My Life

Buntu..

Agustus 14, 2008 *hari 25 komentar

Beberapa hari terakhir ini saya absen dari segala ritual blog, bahkan untuk sekedar membalas segelintir komentar yang masuk ke blog saya ini, tak bisa saya lakukan.

Sebetulnya saya ngga sebegitu sibuk sehingga segala sesuatunya tak lagi sempat. Tapi gara-gara ada lagi software yang mesti di download seminggu terakhir ini. File sourcenya berupa puluhan file ukuran 10Mb yang nantinya setelah semua file itu telah selesai di downpoad mesti di satukan lagi.

Tau sendirilah akibatnya, bandwith di kantor habis kesedot semua untuk itu. dan efeknya saya jadi kesulitan nyampah komentar di blog tetangga

Dan sebelnya, sudah capek-capek download berpuluh-puluh file itu, ternyata hasilnya gagal total, semuanya gagal disatukan menjadi sebuah file installer .

Segala cara yang bisa dilakukan sudah di coba, sama saja .

BUNTU!!!

Daripada tambah stress mending stop saja segala yang berhubungan dengan download mendownload dan mulai blogwalking, mencerahkan pikiran.

Categories: 311555, Celoteh, My Life

Mam..nyam..nyam..

Agustus 9, 2008 *hari 15 komentar

Saya pernah dengar kalimat : Anak kecil adalah peniru yang ulung.

Belakangan ini Stesha punya kebiasaan baru yang sepertinya niru dari saya . Sebetulnya sih saya lakukan hanya untuk lucu-lucuan saja, biasalah kan emang lucu bermain, ketawa ama anak bayi. Mungkin juga karena kadang saya suka jail .

Kebiasaannya itu adalah setiap kali ngemil (kue, tempe dll), setiap kali potongan kecil kue masuk ke mulutnya, sambil mengunyah keluar kata-kata Mam..nyam..nyam..

Tapi lucunya itu hanya kalo dia makan sendiri, nyomot makanan sendiri pake jari-jari kecilnya.

mam nyamnyamTadinya ngga ada kebiasaan begitu, ini dimulai sejak saya iseng mengiming-imingi makanan dengan mengunyah sambil mengucap mam nyamnyamnyam di kupingnya saat dia tidur , akibatnya dia jadi terbangun dan ikutan makan hehehehe…dan tentu saja saat maem bareng Stesha, saya tetap mengucapkan mam nyamnyamnyamm…

Akibatnya ya begitulah mam nyam..nyam .

dan akhirnya tentu saja dia ikut-ikutan ..mam nyamnyam..

Bener-bener papa yang jail ya? tapi jadi lebih asyik lho makannya

Categories: Celoteh, My Life Tag:,

Mama atau Ibu, Bapak atau Papa??

Agustus 6, 2008 *hari 23 komentar

Dulu saat pertama jadi seorang bapak, satu hal terpikirkan adalah ingin dipanggil apa oleh anak saya nantinya. Ada beberapa saudara menyarankan agar saya dipanggil Ayah dan istri saya dipanggil bunda. Tapi entah kenapa saya koq agak kurang sreg dengan itu.

Setelah menimbang-nimbang cukup lama, saya pikir ngga ada salahnya jika saya ingin di panggil Papa dan tentu saja mau ngga mau istri saya juga mengikuti ingin dipanggil mama , meskipun awalnya terdengar agak aneh dan mungkin juga kurang lazim untuk lingkungan sekitar saya, yang umumnya panggilan anak ke orang tuanya adalah Ayah dan ibu, atau bapak – ibu, meski sebetulnya ada beberapa yang lebih aneh dan ngga nyambung, Bapak – Mamah, atau Ayah – Mamah. Tapi jarang sekali yang sepaket Papa – Mama (kecuali mungkin orang kaya yang tinggal di komplek perumahan).

Mungkinkah karena kebanyakan orang (terutama perantauan yang belum sukses, rumah masih ngontrak seperti saya) para bapaknya kurang PD untuk di panggil Papa?

Mungkin karena terlalu kebarat-baratan dan kurang membumi barangkali ya?

….

Saya ada pengalaman unik mengenai hal ini.

Begini ceritanya… *siap-siap mendongeng

Dulu, saat saya sekeluarga pulang, adik-adik saya bahkan setengah meledek saya gara-gara ini, (meski ngga secara langsung) mereka sepertinya nganggap ngga pantes cah ndeso kayak saya ini dipanggil papa (bahkan diplesetkan jadi papah gedhang -pelapah daun pisang).

Saat itu Earnand keponakan saya memang memanggil ayah-ibunya Bapak dan Ibu (meski memang belum bisa jelas dan lancar.)

Adik saya yang cewek, saat itu sempat bilang kalo dia lebih suka dipanggil Ibu, malu kalo dipanggil mama. Suaminya juga sependapat, memilih dipanggil bapak. Sepertinya panggilan Papa-Mama terasa terlalu hebat & keren buat mereka.

Padahal sejatinya, alasan saya untuk dipanggil papa – mama itu sederhana saja, karena papa – mama adalah kata termudah yang diucapkan bayi. Sama sekali bukan untuk keren-kerenan..

Dan dugaan saya itu terbukti, kata yang pertama bisa diucapkan Steven & Stesha adalah MA..MA, dan sekarang ini Stesha lancar dan jelas banget ngucapin kata-kata Papa..Mama..

….

Beberapa bulan berikutnya saat saya pulang lagi, ada sebuah perubahan unik terjadi. Keponakan Earnand (kira-kira saat itu umurnya 18 bulan) ngga mau lagi manggil ibu, maunya mama.

Akhirnya (terpaksa) adik saya dan suami ngalah dan anaknya manggil keduanya Papa – Mama…

Konon alasannya gara-gara dengar mbak Stesha ber-papa-mama .

Categories: Celoteh, My Life