Lebih Baik Menyalakan Lilin Daripada Mengutuk Kegelapan

Itu adalah kalimat terindah yang pernah kudengar dalam hidupku. Sebuah kalimat yang kudengar terucap dalam do’a bapakku suatu ketika saat aku tengah pulang beberapa waktu lalu.

Kalimat itu juga yang sanggup memberikan penghiburan bagiku setahun lalu(sampai saat ini) setiap kali menghadapi beratnya ujian kehidupan…

Kalimat itu juga yang membuatku tetap bertahan dan mampu melanjutkan hidupku yang sempat terasa tak berarti, membuatku menerima dan memaafkan diri sendiri dan bukan terjebak dalam sesal tiada akhir dan tiada guna…

Mengutuk kegelapan (menyalahkan diri sendiri, orang lain dan keadaan) memang amat sangat mudah terlebih saat mengalami sebuah kesulitan, penderitaan, kesedihan, tapi apakah itu membawa manfaat selain bertambahnya beban yang mesti dipanggul? Bukankah akan jauh lebih berguna serta bermanfaat jika mau sedikit berusaha menemukan sebatang lilin untuk dinyalakan?

Mungkin tak akan mudah, tapi dari sebaris kalimat dalam do’a bapak yang terucap dengan tulus itu, meyakinkan saya bahwa selalu tersedia sebatang lilin yang bisa dinyalakan setiap saat manakala kegelapan menyaputi jiwa…

*sebuah perenungan sederhana mengenang kepergian Steven “Mas Bembem” Hasell setahun yang lalu*