Hari ini setahun yang lalu…
Saya dan mamanya Stesha duduk diam di ruang tunggu ICU sebuah rumah sakit di RawaLumbu Bekasi. Steven putra pertama kami tergolek tak berdaya di ruang ICU…
Jam 6 pagi, suster memanggil kami, sepertinya ada berita buruk yg hendak disampaikan..
Ternyata benar.. Katanya beberapa menit yang lalu, denyut jantung Jagoan kami itu menghilang. Beberapa cara telah dilakukan, tak banyak membantu..
Berikutnya, secara medis dokter memutuskan "Steven telah dipanggil Sang Pencipta."
….
Duka dan Air mata dan setumpuk penyesalan berbaur…
"Saya gagal menjadi Papa.." "Kami gagal menjadi orang tua."
….
Tapi kenapa tak nampak duka di wajah Jagoan saya yang terbaring kaku itu? Hanya wajah damai layaknya tidur pulas, tidur panjang di kedamaian surga….
Tak layak jika kepergiannya ditangisi, dia sudah pergi dalam damai Tuhan…
Selamat Jalan Stevenku..pergilah dengan tenang anakku, papa & mama selalu akan mencintaimu..
***sebuah kenangan: Steven Hasell 17 Januari 2006 – 19 juli 2007***




Juli 19, 2008 at 10:27 am
hari… tulisanmu menyentuh banget.
tapi dari ceritamu, aku merasa kok sekarang Steven tersenyum di surga sana, melihat papa, mama dan adiknya yang masih begitu penuh cinta.
tetap kuat mengarungi lautan dengan cinta ya..
Juli 20, 2008 at 3:21 am
dia pasti sedang bahagia di syurga
Juli 20, 2008 at 11:35 am
Juli 20, 2008 at 12:07 pm
turut berduka cita Mas
saya yakin Steven akan mendapat tempat terindah di surga
Juli 20, 2008 at 2:30 pm
yup.. btul mas… ketika cinta sudah bicara, tiadalah bisa terpisahkan…
karena steven telah menunggu disana…
Juli 20, 2008 at 5:42 pm
itu kakaknya stesha mas…?? ganteng banget… ah! baru satu taon yg lalu perginya? ah tapi dia mah pasti udah senang di sana mas…
Juli 20, 2008 at 8:25 pm
[...] itu juga yang sanggup memberikan penghiburan bagiku setahun lalu(sampai saat ini) setiap kali menghadapi beratnya ujian [...]
Juli 21, 2008 at 8:25 am
Turut berduka cita. Dia masih idup dalam hati keluarga yang ditinggalkannya.
Juli 21, 2008 at 11:10 am
mas yakinlah Steven saat ini sedang berbahagia.
Juli 21, 2008 at 3:53 pm
Ah mas …
Saya berkaca-kaca …
Saya hanya bisa berdoa …
Semoga Steven bahagia di alam sana …
Saya yakin … Steven ada di rumah mas Hari …
Dia ada mas … !
Salam saya …
Juli 23, 2008 at 1:20 pm
Meninggal saat balita pasti ga akan ada yg merintangi jalannya ke surga mas.
Juli 24, 2008 at 1:33 pm
Turut berduka mas Hari..
Steven pasti bahagia disana..
Juli 24, 2008 at 5:31 pm
# ika : saya juga yakin seperti itu mbak Ika. Makasih untuk supportnya.
# mercuryfalling : amin..
# jenderal : yup, sebuah senyumanlah yg layak mengantarkan kepergian Steven, thank Jenderal.
# Max Breaker : amin, terimakasih Max.
# azaxs : betul mas, makasih supportnya.
# carra : betul mbak, itu steven, kakaknya Stesha. Mirip banget ya wajahnya? saya juga yakin Steven pasti sudah bahagia di sana.
# akokow : selalu raganya boleh pergi, tp dia tetep hidup dalam hati kami mas Koko.
# Artha : tentu, saya meyakini itu, makasih suportnya mas Artha.
# nh18 : makasih banyak pak trainer…
# Tigis : betul, bagaimanapun dia masih Suci.
# puak : sejujurnya ngga perlu lagi ada duka mbak puak, justru dengan senyumlah kami harus melepaskan kepergiannya, karena dia ergi ke dalam kebahagiaan tuhan, justru tangisan yg akan menghambat kedamaiannya itu..
# ALL : terima kasih buat sahabat semua, atas do’a dan segala bentuk supportnya, tanpa kalian semua segala sesuatu akan sangat berat buat saya.
Agustus 23, 2008 at 12:48 pm
[...] sejak kejadian setahun lalu pada Steven, rumah sakit adalah sebuah tempat yang terburuk untuk dikunjungi. Tapi apa boleh [...]
Agustus 23, 2008 at 10:47 pm
I’m speechless.
Tapi saya sangat percaya, Steven sedang tersenyum di sana, Mas Hari.
Be a good man… supaya kelak, bisa bersama-sama dengan Steven di Surga…