Gara-gara Tanda Tangan
Ini sebetulnya cerita minggu yang lalu, sehabis pulang dari Surabaya waktu itu. Juga lanjutan kartu ATM yang ketelen itu.
Setelah ngecek sana-sini dengan temen-temen sekantor yang barengan bikin rekening banknya, barulah saya ketahui kalo ternyata kartu ATM saya sudah expired, habis masa aktifnya (mirip pulsa henpon aja ya?
). Beberapa temen saya cerita kalo kartu ATMnya ketelen mesin juga, dari cerita mereka akhirnya saya sempatkan sore-sore selepas makan siang untuk ke bank terdekat untuk mengurus penggantian kartunya.
Awalnya lancar-lancar saja, saya hanya diminta menunjukkan KTP saja.
Sayang..berikutnya ngga selancar itu, karena tanda tangan di KTP saya berubah. Dan sialnya berubahnya cukup ekstrim lebih keren maksudnya
, awalnya si mas pegawai bank (menyebalkan kenapa bukan cewek cantik dan seksi sih?
) itu tetap meminta saya tanda tangan di kertas, tentu saja menggunakan tanda tangan yang lama yang sama dengan tanda tangan saat membuka rekening, e udah susah payah mengingat-ingat dan berhasil eh sama petugas yang lain (cewek tapi sudah agak berumur) yang lebih senior di situ, proses penggantian kartu ATM saya tidak bisa disetujui. Alasannya ya karena tanda tangan di KTP berubah.
Halah..padahal tanda tangan lama saya, sudah berhasil saya ingat dan saya tuliskan di kertas.
Dan dengan nada dibuat seperti menyesal, mereka meminta maaf tidak bisa membantu saya, selanjutnya mereka menjelaskan bahwa saya mesti mendatangi kantor cabang bank dimana saya membuka rekening dulunya. Dan kantor cabang bank itu letaknya lumayan jauh dari Bekasi meski masih berada di Jakarta, dan sialnya lagi saya sama sekali ngga tau dimana letak pastinya, wong dulu saat membuka rekening pihak bank koq yang datang ke kantor saya.
"Gimana seandainya saya membuka rekeningnya di Papua, atau di Aceh atau di tempat lain yang sangat jauh dari domisili saya sekarang?" tanya saya setengah komplen.
"Ya kalo kasusnya begitu, saya sarankan mas membuat KTP lagi saja dengan tanda tangan sama seperti tanda tangan yang lama."
Halah, lebih merepotkan lagi..![]()
Akhirnya dengan sebel, marah, jengkel semuanya nyampur, saya keluar dari bank itu..
Meski itu mungkin prosedur standar semua bank, mengharuskan tanda tangan harus selalu sama, tapi tetap saja saya kesal, masa lebih dipercaya tanda tangannya ketimbang orangnya sih?
Lagipula bukankah tanda tangan sesorang bisa dirubah kapan saja, barangkali dulu pertama bikin tanda tangan belum menemukan format yang terbaik?
Trus kenapa pihak bank tidak menggunakan sidik jari saja? bukankah sidik jari jelas jauh lebih valid ketimbang tanda tangan? ah mungkin udah bukan zamannya lagi tanda tangan pake cap jempol..
Yang pasti, mau tidak mau besoknya saya tetap harus ke Jakarta…
note : tapi untunglah, meski saya rada buta daerah Jakarta, saya ngga nyasar terlalu jauh saat ke sana, dan kantor banknyapun dengan gampang saya temukan. Hanya ongkos bensin ke sananya itu yang menguras isi kantong saya, wong saya pake Pertamax je..
(dan hari ini harga Pertamax sudah Rp 10.000
– kenapa tambah hari tambah naik melulu ya? )
nyomot gambar lewat google dari sini






*hari-hari Hari dikomentari