Juni 2008


Kerak TelorSelama kurang lebih 10 tahun merantau di Jakarta (Bekasi sebetulnya di luar Jakarta, tapi karena jaraknya tak begitu jauh, terkadang orang tetep menyebutnya Jakarta juga ), belum pernah sekalipun saya mencicipi penganan khas Betawi yang satu ini, Kerak Telor.

Mungkin karena memang sudah sangat susah menemukannya. Tapi kali ini, sepertinya karena bertepatan dengan Jakarta yang memperingati HUTnya (ke-481), di deket tempat tinggal saya di Bekasi mendadak ada tukang jualan kerak telor itu. (biasanya kalo ngga salah penganan ini hanya dapat dengan mudah ditemukan di arena Pekan Raya Jakarta saja).

Daripada penasaran, sabtu sore kemarin saya sengaja membeli dua porsi. Satu pake Telor ayam, satu lagi telor bebek.

Kerak Telor1Cara masaknya unik banget, beras (sepertinya direndam terlebih dulu) dipaparkan merata pada wajan kecil yang sudah agak panas, kemudian ditambahkan telor. Tapi bukan masakannya dibalik seperti menggoreng telor, justru wajannya yang dibalik dan dihadapkan pada bara arang sehingga sisi atas kerak telor juga menjadi matang.

Setelah matang, sebagai topping ditaburkan srundeng dan bawang goreng.

Rasanya, jujur saja terasa aneh buat lidah saya, sama anehnya saat dulu pertama kali makan pizza.

btw; meski rasanya aneh tapi ini makanan khas Betawi dan mesti dilestarikan biar ngga punah .

Dulu sewaktu Stesha sakit, mamanya sempet menjanjikan mo membelikan tas kecil untuk Stesha. Setelah beberapa kali tertunda karena cukup banyak kebutuhan lain yang lebih penting, baru sabtu ini kami sempatkan jalan ke mall.

Setelah lumayan lama ngubek-ubek counter tas di Gramedia, akhirnya pilihan jatuh pada tas punggung kecil Disney. Pas milih-milihnya sih, saya sama sekali ngga melihat label harganya, eh begitu nerima nota untuk membayar, barulah saya terkaget-kaget, lha koq ternyata lebih mahal dari tas punggung laptop yang saya pakai.

Heran, kenapa perlengkapan bayi (terutama pakaian) selalu mahal ya? Apa karena Disneynya ya?

Eia, ada tetangga yang nanya harganya lantas dijawab jujur ama embahnya Stesha kalo harganya x ratus ribu, komentarnya begini:

"Masa sih tas begitu harganya segitu? paling-paling harganya 20rebu." (Apa saya bayar terlalu mahal ya? -Tas Disney mestinya seharga 20rebu?? )

Tapi bodo amatlah ama harga, yang penting Steshanya seneng, itu priceless bukan?

Tas Stesha Bergaya pake tas

Pulang kerja rabu sore, mamanya Stesha yang kebetulan kena shift malem tumben-tumbenan masih di rumah. Biasanya kalo saya nyampe rumah jam 5:50 sore, dia pasti sudah jalan duluan.

Tapi sore ini sepertinya sengaja nungguin saya , dan dengan wajah sumringah nunjukin sebuah kartu undangan kecil

"Pa, Tesha dapat undangan ultah lho" katanya. " Anak tetangga (saya ngga begitu tau yang mana) mo ngerayain ultah, Tesha tadi dikasih undangan, trus…,"

"Tugasnya papa, mesti beliin kadonya ya?" (halah…)

*Mendadak Stesha yang tadinya udah merem, jadi terbangun bahkan langsung minta duduk, sepertinya dia juga ingin nunjukin undangannya, mukanya juga kelihatan ceria, dan ada senyum di wajah mungilnya itu .

hihihi saya jadi senyum-senyum geli, ada-ada saja wong Stesha masih kucrut gitu koq. Umurnya saja baru 13 bulan, jalan juga belom bisa, eh lha koq diundang pesta Ultah.

Mungkin karena banyak yang suka ama Stesha kali ya? Soalnya setau saya hampir semua anak kecil seRT, ngga ada yang ngga kenal Stesha.

(Mode Bangga sangat + Sombong ).

ini undangan Ultah buat Stesha itu (sengaja saya scan buat kenang-kenangan karena ini undangan pesta pertamanya Stesha -diih norak amat sih ya? )

Undangan Stesha 1

Undangan Stesha 2

*kucrut : istilah saya nyebut anak yang bayi/masih kecil. (ngga usah nanya ini istilah dapet darimana & dari bahasa apa, saya juga asal aja soalnya)

customer itu rajaSenin siang kemarin, setelah puluhan complain yang bertubi-tubi dari customer yang mulia itu, saya di ajak boss untuk berkunjung ke kantor customer itu. Mungkin daripada berlarut-larut dan hanya membuat emosi kami semua meledak, lebih baik di kunjungi saja, sekalian klarifikasi masalah sebetulnya apa, begitu pikir boss.

Agak deg-degan juga sebetulnya, tapi apapun yang bakal terjadi, saya sependapat kalo harus segera diklarifikasi masalahnya.

Tiba di sana, sesosok pria setengah baya, menyambut kami. (Dari rombongan, hanya saya yang belum pernah ketemu dengan beliau yang terhormat itu). Setelah sedikit ngobrol tentang masalah yang sebelumnya, dan ternyata memang secara teknis, beliau beserta staff (yang kebetulan adalah anak lelakinya) adalah seorang yang sangat expert. Saya akui mungkin jauh di atas saya .

(Hanya saja yang membuat heran adalah, kenapa complaintnya begitu ya?)

…2 minggu dipelajari, hasilnya NOL. Karena seperti orang buta disuruh melihat gajah!!

Saya sengaja, tidak ingin banyak berkomentar, saya hanya bilang bahwa, apa yang dia dan stafnya kerjakan, sudah sangat hebat. Itu saja.

Selanjutnya, ada sekitar 30 menitan, beliau mengkritik "attittude" saya, juga staff kami yang lain… Ada banya hal yang beliau sampaikan (dengan bahasa yang sebetulnya sedikit menyinggung) tapi apapun itu, kami hanya mendengarkan saja, sambil sesekali mengiyakan, tanpa sekalipun mencoba membantah sekedar untuk membela diri.

Setelah, segala unek-uneknya keluar, terlihat beliau menjadi jauh lebih bersahabat dan sebetulnya secara teknis, semestinya tak ada masalah sama sekali.

Jadi dugaan, bapak itu hanya seorang yang butuh diperhatikan saja, butuh sebuah pengakuan bahwa beliau dan staffnya adalah seorang yang sangat Expert. Mungkin selama ini sama sekali tidak ada yang mengakui atau memuji kemampuannya.

* aih..saya sudah seperti seorang ekspert saja dalam menangani karakter manusia

gambar diambil dari sini

*seharusnya diposting sabtu, minggu atau senin kemarin…

Jumat siang kemarin ada SMS masuk ke nomor saya, pengirimnya si boss tapi beliau hanya meneruskan saja SMS itu.

Ya, boss saya hanya meneruskan SMS dari salah satu customer kami yang mulia. Ini terjadi hanya beberapa saat setelah saya menelpon customer itu perihal komplain yang telah dia sampaikan sebelumnya kepada boss saya.

Begini pesannya;

Pak, orang bapak terkesan setengah hati membantu customer, dari pembicaraan di telepon saja kami merasa tidak puas!!!

Kira-kira saya harus bereaksi bagaimana ya?

  1. Balas mengecam dengan kata-kata lebih kasar, dan menuntut pencabutan pernyataannya tersebut serta menuntut permintaan maaf .
  2. Mengadukan ke kantor polisi atas pencemaran nama baik dan menuntut pembubaran kantornya .
  3. Mengerahkan massa untuk menyerbu dan langsung mengobrak-abrik kantornya dan memaksa agar kantor itu dibubarkan saja . atau
  4. Menerima dan berusaha memahami dari sudut pandang dia sebagai customer yang notabene adalah raja, dan mencoba mengoreksi diri kemudian meminta maaf atas pelayanan yang buruk itu dan berjanji tidak akan terulang lagi . (jujur ini adalah hal terberat karena konsekuensinya harga diri dan kebanggaan saya dilecehkan dengan semena-mena).
  5. …. (silakan di isi dengan pendapat yang lain) …

note: upss, sepertinya saya lupa menambahkan, kalo sepanjang kerja sama kami dengan customer yang satu ini, nyaris tak ada satu halpun yag kami lakukan yang tidak mendapatkan kritik dan cela. Dan bisa dibilang dalam sehari ada puluhan complain disampaikan, semua dengan kalimat yang pedas dan menyakitkan seolah pekerjaan & pelayanan yang kami lakukan semuanya buruk .

salah satu complaintnya yang lain:

Pak, software bapak tidak ada Help! dan Manualnya, kami tidak percaya kalau tidak ada. Mungkin tidak di install oleh engineer anda. Sudah 2 minggu dipelajari hasilnya NOL, karena seperti orang buta disuruh melihat gajah!!

Kemudian, tidak sampai 5 menit setelah saya coba menghubungi, datang lagi complaint mereka, yang saya tulis di atas sebelumnya. Begitupun dengan Tutorial sederhana yang saya coba buatkan untuk mereka, jawaban yang saya terima adalah sebuah

Orang saya tidak idiot, buat apa tutorial seperti itu!!!

* beruntungnya saya punya blog, hal-hal begini bisa di posting daripada jadi gondok sendiri..

Ini sebetulnya cerita minggu yang lalu, sehabis pulang dari Surabaya waktu itu. Juga lanjutan kartu ATM yang ketelen itu.

Setelah ngecek sana-sini dengan temen-temen sekantor yang barengan bikin rekening banknya, barulah saya ketahui kalo ternyata kartu ATM saya sudah expired, habis masa aktifnya (mirip pulsa henpon aja ya? ). Beberapa temen saya cerita kalo kartu ATMnya ketelen mesin juga, dari cerita mereka akhirnya saya sempatkan sore-sore selepas makan siang untuk ke bank terdekat untuk mengurus penggantian kartunya.

Awalnya lancar-lancar saja, saya hanya diminta menunjukkan KTP saja.

Sayang..berikutnya ngga selancar itu, karena tanda tangan di KTP saya berubah. Dan sialnya berubahnya cukup ekstrim lebih keren maksudnya , awalnya si mas pegawai bank (menyebalkan kenapa bukan cewek cantik dan seksi sih? ) itu tetap meminta saya tanda tangan di kertas, tentu saja menggunakan tanda tangan yang lama yang sama dengan tanda tangan saat membuka rekening, e udah susah payah mengingat-ingat dan berhasil eh sama petugas yang lain (cewek tapi sudah agak berumur) yang lebih senior di situ, proses penggantian kartu ATM saya tidak bisa disetujui. Alasannya ya karena tanda tangan di KTP berubah.

Halah..padahal tanda tangan lama saya, sudah berhasil saya ingat dan saya tuliskan di kertas.

Dan dengan nada dibuat seperti menyesal, mereka meminta maaf tidak bisa membantu saya, selanjutnya mereka menjelaskan bahwa saya mesti mendatangi kantor cabang bank dimana saya membuka rekening dulunya. Dan kantor cabang bank itu letaknya lumayan jauh dari Bekasi meski masih berada di Jakarta, dan sialnya lagi saya sama sekali ngga tau dimana letak pastinya, wong dulu saat membuka rekening pihak bank koq yang datang ke kantor saya.

"Gimana seandainya saya membuka rekeningnya di Papua, atau di Aceh atau di tempat lain yang sangat jauh dari domisili saya sekarang?" tanya saya setengah komplen.

"Ya kalo kasusnya begitu, saya sarankan mas membuat KTP lagi saja dengan tanda tangan sama seperti tanda tangan yang lama."

Halah, lebih merepotkan lagi..

Akhirnya dengan sebel, marah, jengkel semuanya nyampur, saya keluar dari bank itu..

Cap JempolMeski itu mungkin prosedur standar semua bank, mengharuskan tanda tangan harus selalu sama, tapi tetap saja saya kesal, masa lebih dipercaya tanda tangannya ketimbang orangnya sih?

Lagipula bukankah tanda tangan sesorang bisa dirubah kapan saja, barangkali dulu pertama bikin tanda tangan belum menemukan format yang terbaik?

Trus kenapa pihak bank tidak menggunakan sidik jari saja? bukankah sidik jari jelas jauh lebih valid ketimbang tanda tangan? ah mungkin udah bukan zamannya lagi tanda tangan pake cap jempol..

Yang pasti, mau tidak mau besoknya saya tetap harus ke Jakarta…

note : tapi untunglah, meski saya rada buta daerah Jakarta, saya ngga nyasar terlalu jauh saat ke sana, dan kantor banknyapun dengan gampang saya temukan. Hanya ongkos bensin ke sananya itu yang menguras isi kantong saya, wong saya pake Pertamax je..

(dan hari ini harga Pertamax sudah Rp 10.000 – kenapa tambah hari tambah naik melulu ya? )

nyomot gambar lewat google dari sini

Halaman Berikutnya »